You are currently viewing Pengkayaan Sumberdaya Ikan dengan Fish Apartment Di Perairan Bangsring di Banyuwangi

Pengkayaan Sumberdaya Ikan dengan Fish Apartment Di Perairan Bangsring di Banyuwangi

Penangkapan ikan hias di perairan pantai Bangsring, Banyuwangi telah dilakukan sejak 1970. Perkembangan tiap tahun semakin banyak nelayan yang memanfaatkan daerah perairan pantai untuk menangkap ikan hias di perairan Bangsring. Persaingan untuk mendapatkan ikan hasil tangkapan semakin tinggi, sehingga pada tahun 1980 banyak nelayan yang melakukan penangkapan ikan dengan potas dan bahan peledak. Penangkapan dengan potas oleh nelayan dikarenakan mudah dan murah dalam menggunakannya, akan tetapi penggunaan bahan tersebut dapat mengancam ekosistem. Kerusakan terumbu karang lebih disebabkan oleh faktor yang bersumber dari aktivitas manusia seperti penangkapan ikan menggunakan bahan peledak atau racun seperti potas dan sianida (Mulatsih 2004).

Penggunaan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan dapat mengakibatkan rusaknya ekosistem perairan, terutama kerusakan habitat ikan seperti terumbu karang. Terumbu karang yang rusak mengakibatkan hasil tangkapan berkurang, ikan hasil tangkapan semakin mengecil, dan hilangnya beberapa jenis ikan di perairan tersebut, khususnya ikan karang. Menurut Connel (1987), diantara komponen biotik ikan merupakan salah satu organisme akuatik yang rentan terhadap perubahan lingkungan, terutama yang diakibatkan oleh aktivitas manusia baik secara langsung maupun tidak langsung.

Kondisi perairan yang rusak dan tercemar ikan akan berpindah tempat dan mencari habitat baru. Menurut Anwar et al. (1984), komposisi dan distribusi ikan sangat dipengaruhi oleh perubahan parameter seperti sik, kimia, dan biologi perairan. Salah satu faktor yang mempengaruhi sulitnya habitat ikan kembali adalah rusaknya karang di perairan. Kerusakan karang menjadikan ikan sulit untuk berkembang biak. Secara ekologis, tipologi habitat tersebut sangat penting bagi keberlanjutan ekosistem perairan, karena memiliki fungsi sebagai daerah pemijahan (spawning ground), sebagai area pengasuhan serta pertumbuhan (nursery ground), dan mencari makan (feeding ground) (Budhiman et al. 2013). Kerusakan perairan harus di cegah dan di perbaiki agar sumberdaya ikan tidak habis, salah satunya dengan membuat sh apartment yang diciptakan oleh Balai Besar Pengembangan Penangkapan Ikan (BBPPI) Semarang. Terciptanya fish apartment ditujukan sebagai pengganti terumbu karang dan menjaga keberlanjutan pemanfaatan sumberdaya ikan.

Fish apartment pada saat ini sudah dikembangkan di berbagai daerah Indonesia, akan tetapi masih belum diketahui secara pasti perkembangan sh apartment akan keberhasilan untuk mengembalikan ekosistem perairan. Penanaman sh apartment ini salah satunya pada daerah Bangsring Banyuwangi. Terjadi kerusakan perairan dan berkurangnya hasil tangkapan yang dikarenakan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan. Kerusakan perairan tersebut berdampak pada pendapatan masyarakat nelayan, sehingga dengan meilih lokasi bangsring sebagai lokasi diharapkan dapat mengetahui dampak penanaman fish apartment terhadap perairan khususnya pada perairan Bangsring, Banyuwangi.

Kerusakan karang di perairang Bangsring, Banyuwangi pun tidak dapat dihindarkan lagi, hingga pada tahun 1990 pendapatan nelayan semakin berkurang dan sulit untuk mendapatkan ikan. Sulitnya mendapatkan ikan menjadikan nelayan melakukan penangkapan mencari daerah penangkapan ikan baru dan dibantu dengan alat kompresor.

Pada tahun 2008 kelompok nelayan mencari solusi pengembalian ekosistem perairan Bangsring. Banyak upaya yang dilakukan nelayan untuk mengembalikan ekosistem perairan di Bangsring salah satunya penanaman sh apartment.

Penelitian sh apartment ini memiliki tujuan menentukan kelimpahan jenis ikan sebagai indikator perairan diperairan Banyuwangi. Menganalisis tingkat keberhasilan sh apartment dalam memperbaiki habitat ikan dan diharapkan mampu memberikan gambaran tentang perkembangan sh apartment dan mengetahui dampak langsung terhadap nelayan di daerah Bangsring, Banyuwangi.

Apartemen Ikan adalah rumah ikan buatan yang berfungsi sebagai habitat baru ikan dan sebagai pengganti terumbu karang yang rusak. Penempatan Apartemen Ikan dapat mengumpulkan ikan dengan memberikan tempat berlindung dan tempat memijah telur bagi ikan. Setelah dibiarkan selama beberapa bulan, Apartemen Ikan dapat ditumbuhi terumbu karang sehingga menjadi kumpulan terumbu karang yang baru. Bahan fish apartment berbagai macam, ada yang membuat dari bambu, kayu, besi, dan plastik atau fiber. Saat ini sudah ada produsen yang membuat fish apartement dari plastik dan fiber yang siap dipasang.

Dengan adanya penanaman fish apartment dapat dilihat grafik hasil tangkapan tahun 2012-2015 pada Gambar 2. Hasil tangkapan ikan hias pada tahun 2012–2013 mengalami penurunan. Hal tersebut dikarenakan ikan hasil tangkapan ikan pada tahun 2012 tidak seluruhnya dari hasil tangkapan perairan Bangsring, Banyuwangi. Sedikitnya ikan hasil tangkapan pada daerah Bangsring menjadikan nelayan mencari lokasi penangkapan ikan lebih jauh. Pencarian ikan oleh nelayan Bangsring semakin jauh, dimana penangkapan ikan dapat mencapai pulau Bali. Jarak penangkapan ikan yang semakin jauh menjadikan penangkapan ikan menjadi tidak efisien, hal tersebut dikarenakan tidak sebandingnnya biaya operasional dan hasil tangkapan.

Menurut Mahyudin (2012), menurunnya hasil tangkapan nelayan, semakin kecilnya ukuran ikan yang tertangkap, sulit dan jauhnya mencari daerah penangkapan ( shing ground) dan langkanya beberapa spesies ikan dikarenakan rusaknya kondisi lingkungan dan indikasi over shing. Penurunan sumberdaya ikan di Bangsring merupakan dampak dari interaksi antara aktivitas penangkapan menggunakan alat dan bahan yang tidak ramah lingkungan seperti bom ikan dan potasium sianida. Penggunaan bahan yang tidak ramah lingkungan tentu akan berdampak pada menurunnya daya dukung perairan Bangsring Banyuwangi.
Data hasil penelitian, tangkapan ikan hias di Bangsring, Banyuwangi dari tahun 2013–2015 mengalami peningkatan. Hasil tangkapan pada tahun 2013-2015 mengalami peningkatan, dengan nilai 4.130 ekor pada tahun 2013, 8.949 ekor tahun 2014, dan 12.844 ekor pada tahun 2015 (Tabel 1). Nilai persentase rata-rata kenaikan hasil tangkapan tahun 2013-2015 adalah 80% per tahun. Tahun 2013 nelayan sudah tidak terlalu jauh untuk mencari ikan, hal tersebut dikarenakan sudah mulai kembalinya beberapa jenis ikan di perairan Bangsring. Meningkatnya hasil tangkapan di Bangsring menandakan adanya pengaruh antara hasil tangkapan dan penanaman sh apartment. Penanaman fish apartment yang bertahap dari tahun 2011 memang tidak langsung memberikan dampak pengembalian perbaikan lingkungan suatu perairan, akan tetapi dengan dukungan wilayah konservasi perkembangan perbaikan menggunakan fish apartment dari tahun 2013-2015 mengalami perbaikan yang cukup signifikan.

Gambar 2: Grafik data penelitian perkembangan hasil tangkapan ikan hias di Bangsring, Banyuwangi tahun 2012-2015

Menurut Sutarto (2000), fish apartment/terumbu karang buatan memiliki fungsi yang hampir sama seperti terumbu karang, hal tersebut karena dapat menarik dan mengumpulkan ikan dan kehidupan laut lainnya dengan cara menyediakan tempat berlindung dan sumber makanan tambahan dengan substrat yang luas. Secara umum sh apartment yang dipasang secara nyata telah memberikan fungsi sebagai pengumpul ikan dengan bertambahnya bangunan dasar atau topogra . Bertambahnya daya dukung lingkungan telah memberikan kemungkinan bertambahnya biomassa ikan-ikan setempat. Peningkatan jumlah hasil tangkapan tentu diiringi dengan bertambahnya jumlah jenis ikan. Bertambahnya jenis ikan menandakan kembalinya beberapa ikan yang dulu sempat hilang di perairan Bangsring, Banyuwangi. Ikan hasil tangkapan dapat dilihat pada Tabel 1, setiap jenis ikan di kelompokan berdasarkan family.

Hasil pengamatan visual terumbu karang buatan dengan penyelaman didapatkan beberapa jenis ikan dominan seperti Pomacentridae, Labridae, Chaetodotidae, Serranidae, Siganidae, dan Pomacanthidae (Hutomo 1991). Ikan hasil tangkapan nelayan Bangsring memiliki variasi yang beragam. Tahun 2012 di dapatkan jenis ikan 36 famili dengan 164 jenis ikan yang tertangkap, mayoritas hasil tangkapan dari famili Labridae 33.90%, Pomacentridae 26.59% dan Serranidae 6.02%. Tahun 2013 didapatkan ikan hasil tangkapan 30 famili dengan 135 jenis ikan yang tertangkap, dengan mayoritas hasil tangkapan adalah Pomacentridae 50.27%, Labridae 24.12% dan Gobiidae 4.62%. Tahun 2014 didapatkan ikan hasil tangkapan 32 famili dengan 156 jenis ikan yang tertangkap, dengan mayoritas hasil tangkapan adalah Pomacentridae 36.67%, Labridae 29.52% dan Serranidae 7.78%. Tahun 2015 didapatkan ikan hasil tangkapan 35 famili dengan 191 jenis ikan yang tertangkap, dengan mayoritas hasil tangkapan adalah Labridae 32.86%, Pomacentridae 31.57%, dan Pomacanthidae 7.22%. Grafik data jenis hasil tangkapan bias dilihat pada Gambar 3, sedangkan contoh jenis ikan hias hasil tangkapan nelayan Bangsring Banyuwangi dapat dilihat pada Gambar 4.

Jumlah hasil tangkapan dan pertambahan jenis ikan di perairan pantai Bangsring, Banyuwangi berangsur-angsur meningkat setiap tahunnya, hal tersebut berbanding lurus dengan lingkungan yang semakin baik. Bukan hanya hasil tangkapan saja. Akan tetapi jumlah spesies juga semakin bertambah (Tabel 3). Terhitung pada tahun 2015 didapatkan hasil tangkapan 193 jenis ikan yang dapat dimanfaatkan oleh nelayan. Jenis ikan hias tangkapan nelayan yang paling banyak di sh apartment Bangsring rata-rata adalah ikan hias seperti angel fish (Pomacanthidae), betok (Pomacentridae), kepe-kepe (Chaetodotidae), bunglon (Gobiidae), keling (Labridae), dan kerapu (Serranidae). Pemanfaatan sh apartment tentu sangat berpengaruh, terdapat perbedaan antara sebelum dan sesudah pemanfaatan fish apartment hal tersebut dapat dilihat pada Tabel 2.

Sebagian besar nelayan Bangsring Banyuwangi adalah nelayan yang menangkap ikan hias, sedangkan ikan konsumsi seperti kerapu, kakap dan baronang hanyalah sebagai ikan hasil tangkapan sampingan yang dapat di konsumsi sehari-hari. Nelayan tradisional mendapatkan hasil tangkapan ikan-ikan konsumsi di sekitar lokasi fish apartment. Ikan konsumsi yang tertarik pada terumbu karang buatan adalah famili Serranidae, Labridae, dan Siganidae. Sedangkan ikan hias taget hasil tangkapan seperti angel sh, bontana, trigger, kambigan, kepe- kepe, lintah, ikan tempel, bunglon, jabing, hog sh, betok, keling, scorpion, udang- udangan, klon fish, cabing, kerapu, rainbow, buntal, dan lain-lain yang memiliki warna khas (Hutomo 1991).

Kesadaran nelayan akan penangkapan yang ramah lingkungan semakin tinggi dilihat dari berkurangnya penggunaan bahan penangkapan ikan yang berbahaya seperti potas. Berkat sosialisasi oleh pemerintah dan hasil tangkapan yang menurun nelayan Bangsring sadar akan penggunaan bahan kimia yang bersifat hanya sementara dalam pemanfaatannya, kesadaran nelayan akan tangkapan yang berkelanjutan tentu membuat nelayan Bangsring akan semakin mudah dalam mencari ikan. Penangkapan ikan oleh nelayan Bangsring beralih menggunakan jaring mono lamen yang digunakan untuk menghadang ikan saat digiring.

Kemudahan dalam mencari ikan dapat dilihat dari Tabel 2, perbedaan rata- rata ikan hasil tangkapan yang naik hingga 110%. Rata-rata hasil penangkapan ikan hias yang dilakukan oleh nelayan Bangsring naik menjadi 62 ekor/hari, yang sebelumnya hanya mendapatkan hasil tangkapan ikan 30 ekor/hari. Meningkatnya hasil tangkapan menandakan semakin baiknya perairan bangsring dilihat dari pertambahan jumlah dan jenis yang tertangkap. Rumpon dasar atau sh apartment merupakan suatu alat untuk memikat ikan agar berkumpul, beristirahat, berlindung, singgah, atau terkonsentrasi di sekitar rumpon, sehingga akan mempermudah nelayan dalam menentukan daerah penangkapan ikan ( shing ground). Pemasangan rumpon atau sh apartment menjadikan adanya kepastian daerah penangkapan ikan, maka waktu dan biaya operasi penangkapan bisa diprediksi secara akurat, sehingga usaha penangkapan ikan akan bisa menjadi lebih efektif dan e sien (Martasuganda 2008).

Mudahnya nelayan mencari ikan tentu berpengaruh dalam waktu mencari ikan. sebelum adanya sh apartment nelayan ikan hias Bangsring melakukan penangkapan ikan hingga pulau Bali, jarak antara perairan Banyuwangi dan Bali adalah 3 mil. Jarak yang jauh tentu berpengaruh pada waktu penangkapan dan biaya operasional yang tinggi. Waktu rata- rata penangkapan ikan sebelum adanya sh apartment mencapai 7 jam, dengan adanya sh apartment waktu menjadi lebih efisien menjadi 4.5 jam dengan hasil tangkapan yang meningkat 110%.

Adanya alat bantu fish apartment mampu merubah paradigma nelayan yang semula nelayan melaut untuk mencari ikan, kini berubah menjadi nelayan melaut untuk menangkap ikan. Berubahnya pradigma tersebut dikarenakan daerah penangkapan yang ditujunya sudah pasti, sehingga dapat menghemat waktu dan biaya operasional (Budhiman 2011). Jarak penangkapan yang tidak jauh, waktu penangkapan yang singkat, hasil tangkapan yang banyak dan bervariasi menjadikan sh apartment adalah sebagai salah satu cara dalam pengembalian ekosistem yang rusak.

Terumbu karang buatan
Terumbu karang buatan adalah benda yang di turunkan kedasar perairan sehingga berfungsi layaknya habitat ikan. Banyak bentuk konstruksi dan jenis material yang diaplikasikan pada terumbu buatan, dari balok kayu biasa, papan, concret semen, besi dan kapal, bus bekas, PVC, dan bahkan ban bekas. Perbedaan bahan dan teknik pembuatan kemungkinan akan menyebabkan optimalitas terumbu karang buatan. Pembuatannya mungkin pekerjaan mudah. Tapi proses penenggelaman dan penempatannya di laut memerlukan keterlibatan para ahli di bidangnya. Terumbu buatan akan dihinggapi oleh binatang-binatang karang, yang seiring perjalanan waktu akan mengalami proses pengerasan atau pengapuran. Semakin lama berada di kedalaman air dan mengalami proses seperti itu, benda tersebut akan makin kuat, dan diharapkan bisa menjadi tempat bagi ikan-ikan di laut untuk bertelur serta tumbuh dan berkembang.

Manfaat Fish Apartment dan Terumbu Karang Buatan:
• Menjadi zona inti konservasi ikan – fish bank
• Populasi ikan di zonasi inti konservasi akan meningkat
• Jenis ikan yang ditangkap bertambah
• Nelayan tidak perlu lagi melaut ke tempat yang jauh pada musim-musim paceklik (laip)
• Mengurangi biaya melaut
• Memiliki waktu lebih banyak untuk keluarga
• Penambahan pendapatan nelayan dari berkembangnya menjadi ekowisata
• Peningkatan kesejahteraan nelayan (dalam 2 tahun)

Kenapa Konservasi Pantai?
• Banyak pantai mengalami abrasi yang hebat, semakin cepat abrasi pantai, nelayan semakin tidak memiliki ruang untuk sandar perahu dan fasilitas lainnya
• Gelombang besar dan angin di pesisir pantai tidak memiliki penghalang menuju perkampungan nelayan
• Konservasi mangrove dan cemara laut merupakan salah satu mitigasi bencana
• Dengan konservasi pesisir (mangrove) populasi ikan, kepiting, dan rajungan di pesisir meningkat
• Diversifikasi pendapatan dari sektor ekowisata

 

Tinggalkan Balasan